Mendengarkan musik, sebagai alternatif hiburan memang menyenangkan. Apalagi
bila tak keluar uang sepeser pun seperti ketika mendengarkan di radio atau
memelototi si �kotak ajaib’ televisi. Mengasyikan sekaligus sebagai obat
penghilang mumet. Tapi perlu diingat pula, bahwa di balik nikmatnya musik,
ternyata menyimpan ancaman yang bisa membahayakan kamu. Nggak percaya? Terusin
aja baca tulisan ini.
Mendengarkan musik, ternyata berlaku pula dalam kamus remaja macam kamu.
Bahkan dengan beragam warna musik. Dari mulai yang bisa bergoyang-goyang
seperti musik dangdut sampai yang untuk head banging macam musik-musik heavy
metal. Tentu saja, di sini musik tidak hanya sebagai alternatif hiburan
penghilang mumet, tapi sekaligus pengusung gaya hidup. Tidak menutup mata,
bahwa remaja ada yang mengkonsumsi musik bukan hanya sebagai hiburan an sich,
tetapi bagaimana ia berusaha melibatkan emosinya bersama musik. Musik telah
menjadi bagian dari hidupnya. Bahkan tak heran bila kemudian punya jadwal
tersendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Maka tak mustahil kalau akhirnya
banyak remaja seusia kamu yang histeris tatkala penyanyi atau grup musik
idolanya manggung. Malah sampai ada acara pingsan segala.
Dulu jaman kakak-kakak kamu masih SMA, ketika gerombolan Lars Ulrich bersama
Metallica-nya �membakar’ stadion Lebak Bulus Jakarta, banyak pula
teman-teman remaja yang tersihir oleh lengkingan lead guitar-nya Kirk Hammett
dan gebukan drum Lars Ulrich yang menghentak ketika mengiringi lagu …And
Justice for All, misalnya. Mudah ditebak, teman-teman remaja kemudian
melibatkan emosinya bersama grup musik tersebut. Jejingkrakan, head banging,
teriak-teriak meluapkan emosinya bersama hingar-bingarnya musik, lalu tenggelam
dalam keributan.
Hal serupa pernah pula membuat Bon Jovi kegeeran saat manggung di Ancol.
Seperti biasa, para penonton histeris dan larut dalam alunan musik pop
rock-nya. Bahkan ada catatan tersendiri bagi para ABG putri, selain mereka rela
mengeluarkan uang puluhan ribu, juga larut dalam histeria. Mereka teriak dan
tak sedikit yang akhirnya pingsan. Gimana nggak, personel Bon Jovi
ganteng-ganteng sih. Tapi hati-hati, biarin tampangnya roman, tapi hatinya
preman. Dan, ketika lagu It’s Only Words didendangkan Ronan Keating dan
kawan-kawannya yang tergabung dalam Boyzone, kembali anak muda Jakarta yang
mengikuti konser mereka tersihir dan tenggelam dalam histeria.
Bila begitu, musik ternyata bukan sekadar hiburan belaka, tapi sekaligus
membawa pesan ideologi. Benar nggak, Brur?
Musik memang enak untuk didengar oleh siapa saja. Karena konon kabarnya
musik adalah bahasa yang paling universal dan mampu beradaptasi dengan telinga
orang dari belahan dunia mana saja, seperti halnya tertawa yang sama sekali tak
memiliki logat daerah tertentu. Universal memang. Namun, apakah karena alasan
universal, lalu musik menjadi bebas? Atau, apakah karena musik dapat
menciptakan suasana menyenangkan, lalu sah-sah saja membuat musik apa saja? Dan
Boyzone, Bon Jovi, Metallica, Backstreet Boys, The Moffatts adalah sebagian
dari gerombolan �tukang sihir’ yang mampu mentransfer musik dan gaya hidup
mereka kepada remaja.
Kalau ada orang yang mengatakan bahwa selama hidupnya ia tak bisa lepas dari
musik, mungkin terlalu berlebihan, atau mungkin juga adalah hal lumrah. Yang
menganggap musik sebagai �teman hidup’, bisa jadi ia tak bisa lepas dari
musik. Musik senantiasa menjadi inspirasi dalam hidupnya. Ia menjadi begitu
menggantungkan hidupnya kepada musik. Dan musik bagi dirinya telah menjadi candu.
Bila musik sudah menjadi candu, harus disikapi dengan bijaksana. Selama
musik yang didengarnya tidak sampai memoles kejiwaannya dengan tidak memberikan
warna yang identik dengan gaya hidup tertentu, itu tak jadi soal. Yang menjadi
masalah besar adalah, ketika musik yang didengarnya adalah jenis musik yang
amburadul dan menyihirnya untuk mengikuti gaya hidup para pemusik pujaannya.
Jadi, mendengarkan boleh, asal tetap mengikuti aturan main dalam Islam.
Musik Juga Nggak Bebas Nilai
Siapa bilang kalo musik nggak ada hubungannya dengan gaya hidup, sehingga kita
terlanjur menganggapnya �makhluk’ polos yang tidak akan berpengaruh banyak
dalam kehidupan kita. Dan tidak semua jenis musik dijamin bakal menyelamatkan
kamu. Kamu nggak nyangka kalo �ideologi’ anarchy yang dianut salah satu
aliran gaya punk yang terkenal melalui sosok Johnny Rotten dari Sex Pistol
bakal jadi gaya hidup kawula muda macam kamu. Kalo kamu mau lihat gaya hidup
anak muda sekarang, wuih kita nggak habis pikir kalo ternyata budaya fungky itu
sudah menjadi gaya hidupnya. Rambut dipylox, celana belel, sering beler.
Pokoknya amburadul!
Kamu juga bisa lihat �ideologi’ kaum gay melalui kelompok aliran gaya
busana Glam dengan irama glam rock melalui sosok David Bowie dan Gary Gliter.?
Atau gaya rastafarian melalui tokoh Bob Marley dengan irama reggae yang
sekaligus mempopulerkan gaya rambut dreadlock (gimbal). Malah tak sedikit yang
kemudian ikut-ikutan dengan? gaya B-boy dan Flygirls serta Gangsta
melalui irama musik Rap (Muda, no. 10/12 Juni 1999). Ya, mereka itu mampu
menciptakan gaya hidup tersendiri bagi para pemujanya. Sekali lagi, ternyata
musik memang bukan sekadar hiburan. Dan tentu saja, tidak bebas nilai.
Nah, kamu jadi tahu sekarang, bahwa musik tak selamanya sebagai kawan. Suatu
saat mereka pun bisa menjadi lawan dan bahkan mampu membunuh kepribadian kamu.
Kenapa ini jadi masalah?
Karena kita muslim. Lho memangnya kenapa? Rasulullah saw. mengajarkan kepada
umatnya agar selalu menjadikan aturan-aturan Islam sebagai acuan hidupnya.
Maka, kita nggak boleh melakukan apa saja tanpa merujuk kepada ajaran Islam.
Nggak boleh bebas nilai. Umar bin Khaththab r.a. mengatakan bahwa Al-�Ilmu
qoblal �amal (ilmu itu sebelum amal). Dengan demikian kita harus tahu
terlebih dahulu apakah perbuatan yang akan dilakoni ini memiliki nilai terpuji
atau tercela. Dan apakah perbuatan tersebut boleh dilakukan atau malah wajib
ditinggalkan. Melakukan atau menghindari suatu perbuatan tentu harus
berdasarkan dalil yang jelas, yakni dari Al Quran maupun hadits. Firman Allah
SWT: “..Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimah dia. Dan apa yang
dilarangnya bagimu? maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.� (QS. Al Hasyr: 7)
Dan musik, sebagai sarana hiburan tak bebas nilai. Ia harus mengikuti aturan
main yang dibuat Islam. Sehingga tak akan muncul jenis musik yang bikin sangar,
jenis musik yang merusak aqidah dan jenis musik lainnya yang bisa bikin hati
dan otak kita dipenuhi dengan pikiran-pikiran nakal dan porno.
Bagi kamu yang kenal grup musik The Beatles, pasti mengenal sosok John
Lenon. Ingat ya John Lenon, bukan Otong Lenon! Nah, John Lenon pernah berkoar
lewat lagu Imagine—yang juga menjadi soundtrack film The Killing
Field—tentu sebelum tewas di’dor’ penggemarnya sendiri. Doi bilang
begini,�No heaven, no hell, and no religion too..� atau dalam lagu lainnya,
“I don’t believe in Superman, I don’t believe in The Beatles, and I
don’t believe in God, I just believe in John and Yoko.� Wah, gawat Brur!
Tak bisa disangkal pula, bahwa musik yang diiringi dengan lirik lagu porno
bakal bikin pendengarnya gelisah. Kelompok musik Slank, dalam album pertamanya
Suit Hey Hey ada lagu Cinta Ala Amerika yang syairnya kayak begini, “Aku
peluk, kamu peluk, aku cium, kamu cium…� Itu sudah ngajarin untuk bebas
bergaul dengan lawan jenis. Bahaya, Non!
Itu baru grup domestik, kalo nyimak grup mancanegara, weleh-weleh, bisa
bikin repot. Dulu jaman kakak-kakak kamu SMP, ada grup yang punya nama 2 Live
Crew yang ngetop berat dengan lagu We Want Some Pussy, padahal isi liriknya
jijay banget. Atau George Michael yang ngehit dengan lagu I Want Your Sex,
sampai kelompok accapela beken yang punya lagu I Wanna Sex You Up. Soal
liriknya, sori berat nggak bisa dibeberin di sini. Bisa bikin �piktor’ otak
kamu.
Seperti nggak mau kalah, Kurt Cobain bersama gerombolannya di Nirvana pernah
membuat lirik lagu dengan judul Rape Me (Perkosalah Aku). Wah, dari judulnya
saja sudah bikin �ngeri’ dan tentu saja porno.
Baik, kalau memang tak bebas nilai, kenapa sekarang justru banyak yang seperti
itu?
Perlu Kontrol
Tentu saja, untuk mengerem laju jenis musik dan lirik lagu yang bakal bikin
gerah dan merusak aqidah diperlukan pengontrolan yang ketat dan tegas. Kalo
sekarang? menjamur, tentu saja bukan berarti bahwa jenis musik yang
amburadul itu menjadi sah-sah saja bahkan dijadikan the way of life. Dalam
teori komunikasi massa, ada istilah efek penanaman, yakni informasi yang
disampaikan terus menerus akan menjadi sesuatu yang dianggap wajar memang
begitu adanya. Terus ditanamkan, ditumbuh-kembangkan tanpa memperhatikan
nilai-nilai kehidupan yang mengatur individu dan masyarakat dalam sebuah
peradaban. Meski informasi itu salah, tetapi karena ia disampaikan dengan
gencar dan berulang-ulang, maka masya-rakat akan menganggapnya benar dan sah.
Saat ini nyaris tak ada kontrol yang berarti dari masyarakat dan negara.
Maka tatkala ada individu masyarakat yang nyeleneh mereka tak menghiraukan
sedikitpun. Tentu saja ini adalah awal dari kehancuran sebuah masyarakat.
Kondisi saat ini memang rusak, tak ada kontrol dari masyarakat, longgar sanksi
yang diberikan negara, ditambah lagi dengan ketakwaan individunya yang
kembang-kempis atau kadarkum alias kadang sadar kadang kumat—kalo nggak mau
dikatakan nol!
Yang dibutuhkan saat ini adalah menanamkan nilai-nilai Islam yang tangguh
kepada individu (khususnya remaja), kemudian penyamaan pemikiran dan perasaan
di tengah-tengah masyarakat sebagai perangkat untuk melakukan kontrol. Karena
terus terang saja, tanpa berangkat dari pemikiran dan perasaan yang sama
tentang suatu perbuatan akan sulit melakukan pengontrolan dan pemberian sanksi
yang tegas. Masyarakat harus sama-sama menilai tercela terhadap perbuatan
maksiat dan harus sama-sama menjatuhkan vonis amburadul terhadap gaya hidup
yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dan akan lebih afdhol, bila
kemudian negara memberikan sanksi yang tegas, misalnya membreidel albumnya atau
mencekal dan memperkarakan pemusik dan pencipta lagunya seperti yang pernah
dialami lagu Takdir-nya Desy Ratnasari. Bila demikian, rasanya bakal tak muncul
para pemusik yang berekspresi macam-macam. Nggak akan muncul jenis musik yang
bikin Alice Cooper punya acara memakan kelelawar segala dalam menikmati jenis
musik rock-nya. Dan tentu saja gerombolan yang dipimpin Ronan Keating yang
tergabung dalam Boyzone kagak bakalan berani menyihir remaja dengan lirik-lirik
lagunya yang, gimanaaaa…gitu.
Jadi, musik boleh-boleh saja didengarkan, asal kamu kudu selektif. Nggak
boleh asal telan saja. Harus bijaksana. Kata orang bijak, kalau itu manis,
jangan segera ditelan. Dan bila pahit, jangan cepat dimuntahkan. Dan pastikan
selalu, bahwa Islam akan membawa kebahagiaan.
Harus Diredam
Betul, kalo dikatakan bahwa musik tak selamanya bisa merusak. Ada yang baiknya,
dan itu boleh-boleh saja. Setuju, kok. Tapi masalahnya justru sekarang banyak
yang merusak kehidupan. Coba aja, lebih banyak mana, antara yang mendengarkan
album Cinta Rasul-nya Haddad Alwi dengan lagu-lagunya Jordan Knight?
Yang merusak yang harus kita hindari dan kalo sanggup kita ubah. Dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Malik Al Asy’ari:
“Sesungguhnya akan terdapat di kalangan umatku golongan yang menghalalkan
zina, sutra, arak dan permainan (musik). Kemudian segolongan (dari kaum
muslimin) akan pergi ke tebing bukit yang tinggi. Lalu para penggembala dengan
ternak kambingnya mengunjungi golongan tersebut. Lalu mereka didatangi seorang
fakir untuk meminta sesuatu. Ketika itu mereka kemudian berkata, �datanglah
kepada kami esok hari.� Pada malam hari Allah membinasakan mereka dan
meng-hempaskan bukit itu ke atas mereka. Sisa mereka yang tidak binasa pada
malam tersebut ditukar rupanya menjadi monyet dan babi hingga hari kiamat.�
Nah, golongan yang diazab oleh Allah ta’ala adalah mereka yang
menghalalkan perzinaan, minuman keras (khamr), sutera (untuk pria) dan
memainkan alat-alat musik di luar aturan Islam. Misalkan memainkan lagu syair
porno, pemujaan setan, menggugat Tuhan, termasuk lagu-lagu cinta, lho. Bisa
juga acaranya dilakukan dengan campur baur pria dan wanita (kayak konser
Boyzone, misalnkan).
Tentu, segala sesuatu dan sarana yang bisa menciptakan peluang untuk
terjerumus ke jurang yang membahayakan kehidupan dan kepribadian kita, maka
harus kita cegah dan hanguskan.
Makanya, jenis lagu-lagu yang rusak, memang pada kondisi saat ini sulit
dibendung, bukan saja karena peredaran CD maupun pita kaset yang deras, atau
makin maraknya tayangan televisi saja, tapi memang kebijakan penguasa yang
bersangkutan dengan masalah itu sulit kita �tembus’. Karena terus terang
saja, hanya pemerintah lah yang bisa meredam itu semua. Cuma masalahnya, mau
nggak pemerintah melakukannya? Itu yang jadi masalah sebenarnya. Sebab, selain
menyetop peredaran musik-musik �kacangan’ model begitu, pemerintah juga
berkewajiban memberikan batasan-batasan nilai kepada para seniman dan kaum
muslimin dalam berkreasi. Tentu dengan nilai-nilai Islam.
Kalau ditanya kenapa para musisi gemar bikin lagu-lagu dengan lirik-lirik
kotor dan horor jawabannya karena memang sekarang ini masyarakat hidup dalam
kebebasan nilai. Adapun sebagai langkah antisipasi dan pencegahan saat ini,
paling jauh kita cuma bisa selektif dalam memilih-milih lagu. Itu tok, selain
ikut berdakwah untuk menanamkan nilai-nilai Islam di masyarakat.
Dalam pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah), penguasa akan menertibkan
segala sarana yang bisa merusak akidah Islam, yang akan menghancurkan tatanan
sosial Islam, dan segala macam bentuk pengrusakan kepribadian kaum?
muslimin, maka hal tersebut tanpa ampun akan digasak. Makanya nanti jangan
heran kalo hidup dalam naungan Islam terasa sejuk serta damai. Betul itu!
Gimana?
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
